PEKANBARU, LIPO - Dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS), yang pernah menjadi dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, turut angkat bicara terkait kasus pembacokan yang terjadi di kampus tersebut.
Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa itu dan mengajak para orang tua lebih serius memperhatikan pendidikan, pergaulan, serta masa depan anak-anak mereka.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, UAS mengawali pesannya dengan mengingatkan makna sebuah nama.
Mengutip tafsir Imam Ibnu Katsir terhadap Surah Al-Waqi’ah ayat 89, ia menjelaskan bahwa “Rayhan” bermakna rezeki dan ketenangan, sedangkan “Muzhaffar” berarti orang yang beruntung. Menurutnya, setiap orang tua tentu memberikan nama terbaik bagi anaknya, sebagai doa dan harapan akan kehidupan yang baik.
“Sebagaimana saya mencarikan nama yang baik untuk anak-anak, begitu juga setiap ayah dan ibu pasti menaruh harapan besar pada buah hatinya,” tulisnya, sembari melampirkan tangkapan layar salah satu pemberitaan nasional.
UAS juga menyinggung betapa hancurnya perasaan orang tua ketika melihat anak yang dicintai menjadi korban kekerasan. Ia menyebut peristiwa ini yang menimpa seorang mahasiswi tersebut sebagai pelajaran semua pihak.
“Ini membangunkan kita dari lamunan panjang. Dari sibuknya politik, tontonan drama Korea dan China, hingga hal-hal yang melalaikan. Ada apa dengan anak-anak remaja kita?” ujarnya.
Ia mengapresiasi para dosen yang masih menyempatkan diri memberikan pesan moral di akhir perkuliahan, seperti mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati dalam pergaulan. Begitu pula para pemilik kos yang peduli terhadap lingkungan dan aktivitas anak-anak rantau.
UAS juga membagikan nasihat yang pernah ia terima dari sang ibu sebelum merantau untuk kuliah. Ibunya berpesan, jika ingin menikah maka menikahlah dengan penuh tanggung jawab, dan jika memilih kuliah maka harus sungguh-sungguh menyelesaikannya.
Ia turut menyoroti fenomena hubungan pacaran yang berkepanjangan tanpa arah yang jelas. Menurutnya, perempuan harus menjaga kehormatan dan menyadari bahwa dirinya sangat berharga. Anak muda juga diingatkan agar tidak mudah terjebak dalam rayuan atau kalimat berlebihan yang menjadikan seseorang sebagai satu-satunya harapan hidup.
“Kalau memang serius, datang dan pinang dengan bismillah. Kalau tidak, jangan main-main,” tegasnya.
UAS juga mengaku kerap menasihati keponakannya yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri agar tidak menjalin hubungan yang tidak jelas arahnya. Jika ada laki-laki yang mendekat, ia menyarankan agar disampaikan dengan baik bahwa hubungan hanya dapat dilanjutkan jika serius menuju pernikahan.
Di akhir pesannya, Ustadz Abdul Somad menegaskan pentingnya tiga hal dalam menjaga generasi muda: nasihat, doa, dan tawakal kepada Allah.*****