Tumpang Tindih Jadi Polemik, Pemerintah Bentuk Pokja Batalkan Sertifikat di Kawasan TNTN

Senin, 20 April 2026 | 18:34:31 WIB
Zulkifli Syukur/F: ist

PEKANBARU, LIPO - Pemerintah akan membentuk Kelompok Kerja (Pokja) untuk mempercepat pemulihan di kawasan hutan, khususnyadi kawasan TNTN di Riau. 

Salah satu tujuan Pokja yaitu dibentuk untuk membatalkan sertipikat tanah yang selama ini tumpang tindih kepemilikan dalam kawasan hutan. 

Keputusan pembentukan Pokja ini pun turut didukung Pemerintah Provinsi Riau. 

Asisten I Setdaprov Riau, Zulkifli Syukur, mengatakan, bahwa persoalan pembatalan sertipikat tanah di kawasan TNTN merupakan isu yang dilematis. Tetapi pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap persoalan ini meskipun banyak tantangan yang akan dihadapi. 

"Jadi, intinya untuk pembatalan surat tanah ini penuh dilematis sebenarnya. Namun, hal itu tidak membuat kita berhenti bagaimana untuk menyelesaikannya," ujarnya di Pekanbaru, Senin (20/04/2026).

Dijelaskan, pembentukan pokja merupakan tindak lanjut dari rapat pembahasan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat dan melibatkan semua pihak terkait.

"Karena pertemuan kita hari ini juga merupakan tindak lanjut dari rapat pembahasan pada bulan Januari yang lalu. Sehingga, kita harus membentuk pokja kecil untuk mengurus permasalahan pembatalan sertipikat," jelasnya.

Diungkapkan, pokja yang dibentuk nantinya akan fokus pada identifikasi serta verifikasi terhadap sertifikat tanah yang berada di dalam kawasan hutan. Proses ini penting untuk memastikan objek yang dibatalkan benar-benar masuk dalam wilayah yang dilindungi.

Ia menambahkan bahwa pembatalan sertipikat tidak dilakukan secara sembarangan. Pemerintah akan mengacu pada regulasi yang berlaku serta hasil kajian teknis dari instansi terkait, terutama Kementerian ATR/BPN.

"Tentu yang dibatalkan sertifikatnya itu objek yang masuk ke dalam kawasan hutan. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Riau tentu sangat mendukung dari sisi teknis regulasi yang dilakukan kawan-kawan ATR/BPN," ungkapnya.

Selain itu, sinergi antar instansi juga menjadi kunci keberhasilan program ini. Asisten I Zulkifli menilai bahwa persoalan kawasan hutan tidak bisa diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi menyeluruh.

Ia menekankan pentingnya keterlibatan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam mendukung kerja pokja. Dengan keterlibatan tersebut, diharapkan setiap kebijakan dapat berjalan efektif di lapangan.

"Dengan begitu, harus diperkuat sinergi dan kolaborasi bersama forkopimda untuk membuat tim pokja," pungkasnya.*****

 

 

Terkini