Tidak Ingin Bergantung Pada Distributor, Riau Akan Bangun Pabrik Minyak Goreng Sendiri

Kamis, 30 April 2026 | 17:26:38 WIB
Edi Basri/f: lipo

PEKANBARU, LIPO - Minyak goreng subsidi merek Minyakita mulai langka di pasaran di sejumlah wilayah di Riau. Kalaupun tersedia, harganya telah melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni mencapai sekitar Rp20.000 per liter dari harga normal Rp15.700.

Menanggapi kondisi tersebut, DPRD Riau mendorong langkah strategis untuk mengatasi ketergantungan pasokan. Ketua Komisi III DPRD Riau, Edi Basri, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) berencana membangun pabrik minyak goreng sendiri.

Hal itu, menurutnya telah dibahas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) belum lama ini. “BUMD kita akan bergerak untuk membuat pabrik minyak makan atau minyak goreng, termasuk turunan hilirisasi dari CPO,” ujarnya, Kamis 30 April 2026.

Edi menjelaskan bahwa Riau memiliki potensi besar dengan pasokan crude palm oil (CPO) mencapai sekitar 2 hingga 2,5 juta ton per tahun. Potensi tersebut cukup untuk mendukung produksi minyak goreng secara mandiri di daerah.

Dengan adanya pabrik tersebut, katanya diharapkan Riau tidak lagi sepenuhnya bergantung pada distributor atau pihak luar dalam memenuhi kebutuhan minyak goreng. “Ini bukan berarti sepenuhnya lepas dari ketergantungan, tetapi setidaknya bisa mengurangi ketergantungan kita terhadap pasokan dari luar,” jelasnya.

Rencana pembangunan pabrik minyak goreng ini diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp400 miliar. Skema pendanaannya masih terbuka untuk kerja sama dengan pihak swasta maupun perbankan daerah.

“Nilai investasinya sekitar Rp400 miliar. Kemungkinan kita juga akan menggandeng pihak swasta, termasuk bisa bekerja sama dengan bank daerah,” tambahnya.

Namun, untuk kapasitas produksi pabrik tersebut, Edi mengaku masih dalam tahap perhitungan dan kajian lebih lanjut.

Selain itu, politisi Gerindra ini juga menekankan agar memilih BUMD yang sehat secara finansial dan manajerial agar proyek ini dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.

"Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan minyak goreng di Riau, sekaligus meningkatkan nilai tambah dari sektor perkebunan kelapa sawit di daerah," tutupnya.*****

 

Terkini