Jovi Gajah Pahlawan Penangan Konflik di Riau Mati, BBKSDA: Jasanya Tak Tergantikan

Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:56:12 WIB
Jovi Tak Tertolong Usai Menjalani Perawatan Intensif oleh Tim Dokter Hewan Balai Besar KSDA Riau

PEKANBARU, LIPO - Kabar duka menyelimuti dunia konservasi. Gajah binaan Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, "Jovi" (46 tahun) dinyatakan mati pada Senin (3/8/2026) pukul 20.47 WIB. 

Menurut keterangan dari Plh. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Ujang Holisudin, gajah jantan dewasa yang berjasa dalam penanganan konflik manusia-satwa di Riau itu meninggal setelah 34 hari menjalani perawatan intensif oleh tim dokter hewan Balai Besar KSDA Riau.

“Penyebab kematian Jovi adalah komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang memicu kelemahan otot berat atau myopathy,” jelas Ujang dalam keterangan tertulisnya. 

Ujang menjelaskan gejala sakit Jovi pertama kali terlihat pada 1 Juli 2026. 

"Saat itu Gajah Jovi menunjukkan kondisi kelemahan umum, tidak nafsu makan, tremor, kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor, serta mengalami kesulitan untuk berdiri," sebutnya.

Sejak awal, tim medis BBKSDA Riau langsung melakukan penanganan sesuai SOP. Tindakan yang diberikan meliputi terapi cairan infus 24 jam, vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, serta pemantauan klinis dan laboratorium berkala.

Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, menyebut kondisi Jovi sempat membaik. 

"Kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor mulai berkurang, nafsu makan perlahan membaik, bahkan pada hari keenam perawatan gajah sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah," kata Rini.

Hasil lab darah juga menunjukkan penurunan tingkat infeksi setelah terapi.

Namun, kondisi otot Jovi terus menurun hingga berkembang menjadi myopati berat. Akibatnya gajah kembali tidak mampu berdiri. Selama perawatan, kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi lewat pakan khusus dan infus intensif.

BBKSDA Riau juga berkoordinasi dengan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan untuk mendapatkan masukan medis terbaik.

Pada Minggu, 2 Agustus 2026, kondisi Jovi menurun signifikan. Gajah tidak lagi mau makan maupun minum. 

Puncaknya Senin, 3 Agustus 2026 sekitar pukul 16.00 WIB, suhu tubuh Jovi naik hingga 40°C. Tim medis terus memberi terapi cairan melalui infus, oral, rektal, dan tindakan suportif lainnya. 

Namun pukul 20.43 WIB Jovi mengalami tremor hebat, dan pukul 20.47 WIB dinyatakan mati.

Untuk memastikan penyebab kematian, tim medis langsung melakukan nekropsi dan pengambilan sampel organ untuk uji lab lebih lanjut. Jenazah Jovi kemudian dimakamkan sesuai prosedur.

Jovi adalah gajah jinak jantan asal Kabupaten Indragiri Hulu yang bergabung di PLG Minas sejak 18 Februari 1998. Selama lebih dari 27 tahun, Jovi menjadi garda depan dalam berbagai operasi mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di Provinsi Riau.

"Kontribusinya dalam mendukung upaya konservasi gajah Sumatera menjadi bagian penting dari sejarah pengelolaan konflik satwa liar di Riau," ujar Ujang.

BBKSDA Riau menyampaikan apresiasi kepada seluruh dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang bekerja tanpa henti selama perawatan Jovi.

"Kami juga mengajak masyarakat terus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian gajah Sumatera yang masih menghadapi berbagai ancaman. Upaya konservasi hanya berhasil melalui kolaborasi menjaga habitat, mengurangi konflik, dan mendukung program perlindungan gajah," pungkasnya.****

 

Tags

Terkini