Gunung Ile Lewotolok di NTT Erupsi, Muntahkan Abu Vulkanik Setinggi 800 Meter

Selasa, 08 September 2026 | 09:06:33 WIB
Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), meletus /isy

LIPO - Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), meletus pada Selasa (8/9/2026) pagi. Erupsi tersebut memuntahkan abu vulkanik setinggi sekitar 800 meter di atas puncak gunung.

Berdasarkan laporan petugas pengamatan gunung api Yeremias Kristianto Pugel, erupsi Gunung Ile Lewotolok terjadi pada pukul 06.35 WITA. 

Saat erupsi berlangsung, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat. Tinggi kolom letusan mencapai sekitar 800 meter di atas puncak atau sekitar 2.223 meter di atas permukaan laut.

"Terjadi erupsi Gunung Ile Lewotolok pada hari Selasa, 08 September 2026, pukul 06:35 WITA. Tinggi kolom letusan teramati ± 800 meter di atas puncak," tulis Badan Geologi, Selasa (8/9/2026).

Aktivitas erupsi tersebut juga terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi selama 180 detik.

Hingga saat ini, aktivitas Gunung Ile Lewotolok masih terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebagai lembaga yang bertugas melakukan pemantauan aktivitas gunung api serta memberikan rekomendasi mitigasi bencana.

 PVMBG mengimbau masyarakat sekitar Gunung Ile Lewotolok maupun wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya erupsi. Masyarakat dan pengunjung diminta tidak memasuki maupun beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok. Khusus sektor selatan dan tenggara, masyarakat diminta menjaga jarak hingga radius 3 kilometer.

Selain itu, warga diminta mewaspadai potensi bahaya guguran atau longsoran lava serta awan panas yang dapat terjadi pada sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut Gunung Ile Lewotolok.

PVMBG juga mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung api untuk menggunakan masker pelindung hidung dan mulut serta perlengkapan pelindung mata dan kulit. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya.(***)

Tags

Terkini