Ekonomi Pekanbaru Tumbuh 7,39%, Wali Kota: Perputaran Uang Kencang Belum Tentu Semua Merasakan

Senin, 21 September 2026 | 12:36:30 WIB
Wako Pekanbaru Agung Nugroho/F: ist

PEKANBARU, LIPO - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru mencapai 7,39 persen pada semester I 2026. Capaian itu menegaskan posisi Pekanbaru sebagai motor penggerak ekonomi di Provinsi Riau.

Meski angkanya impresif, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengingatkan agar angka tersebut tidak disalahartikan.

"Memang ada yang susah, ada juga yang punya uang. Ada yang sukses di lapangan usaha tertentu. Namun, yang digambarkan adalah perputaran ekonominya," kata Agung, Senin (21/9/2026).

Menurut Agung, angka BPS adalah potret perputaran ekonomi secara keseluruhan, bukan cerminan kondisi dompet setiap warga.

Agung menjelaskan, perputaran ekonomi di Pekanbaru ditopang dua sektor utama.

Pertama, sektor padat modal seperti industri pabrik kelapa sawit (PKS). Nilainya besar, namun serapan tenaga kerja langsungnya terbatas.

Kedua, sektor padat karya yang justru melibatkan banyak orang. Sektor inilah yang dampaknya lebih terasa luas bagi masyarakat.

"Sementara, padat karya melibatkan banyak orang dan didukung oleh berbagai faktor. Sehingga dampaknya dirasakan lebih luas oleh masyarakat," ujarnya.

Lebih jauh, Agung menyebut ada tiga pemicu yang membuat uang terus berputar di Pekanbaru.

Pertama, Infrastruktur jalan yang membaik. Jalan yang mulus membuat kawasan yang dulu sepi kini menjadi ramai dan memancing aktivitas belanja.

Kedua , Kebijakan fiskal Pemko. Pembayaran Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) ASN selama 14 bulan yang dibayar tepat waktu, plus insentif guru.

"TPP ASN Pemko Pekanbaru dibayarkan 14 bulan tepat waktu. Kami juga menambah insentif para guru dan memberikan baju gratis untuk anak-anak sekolah," jelasnya.

Kebijakan itu, kata Agung, membuat daya beli warga tidak tergerus untuk kebutuhan wajib. Uang yang tadinya untuk baju sekolah bisa dialihkan untuk konsumsi lain.

Ketiga, Pekanbaru jadi kota belanja. Banyak pengusaha sawit yang kebunnya di luar Pekanbaru, tapi membelanjakan uangnya di Pekanbaru.

Agung menegaskan, data BPS tidak hanya mencerminkan kinerja pemerintah. Data itu dikumpulkan di daerah, dikirim ke BPS pusat, lalu dirumuskan secara nasional.

"BPS ini hanya memotret seperti apa pertumbuhan ekonomi di satu daerah. Datanya dikirim ke BPS pusat. Kemudian BPS pusat yang melakukan perumusan," ungkapnya.

Karena itu, pertumbuhan 7,39 persen adalah kerja kolektif seluruh sektor.

"Ini tidak hanya tentang pemerintah, tetapi digerakkan oleh seluruh sektor masyarakat yang ada di Kota Pekanbaru. Bahkan, Pekanbaru adalah kota yang nyaman untuk berinvestasi dan melakukan pembelanjaan," tuturnya.

Ia menutup dengan fenomena yang kerap terlihat di lapangan.

"Orang yang punya kebun sawit di luar Pekanbaru, uangnya dibelanjakan di Pekanbaru. Karena, jalan-jalan Pekanbaru bagus dan ada tempat-tempat yang enak dinikmati," pungkasnya.*****

 

 

 

 

Terkini