BENGKALIS, LIPO – Capaian restorasi gambut di Riau terbilang besar. Selama periode 2016 hingga 2024, sekitar 451 ribu hektare lahan gambut berhasil dipulihkan melalui berbagai intervensi.
Namun, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto mengingatkan, angka tersebut jangan dijadikan garis finis. Kawasan yang sudah dipulihkan justru membutuhkan penjagaan ekstra agar tidak kembali terdegradasi.
"Kita patut bersyukur sudah memiliki pondasi cukup kuat. Tapi pekerjaan kita tidak boleh berhenti pada angka-angka statistik," kata Hariyanto saat kegiatan restorasi gambut di Tanjung Leban, Kabupaten Bengkalis, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, kunci keberlanjutan ada pada masyarakat yang hidup paling dekat dengan kawasan gambut. Kelompok seperti Masyarakat Peduli Api dan Masyarakat Peduli Gambut dinilai paling paham kondisi lapangan dan paling cepat mendeteksi potensi gangguan.
"Anda sekalian lah yang paling memahami kondisi lapangan dan bergerak nyata menjaga yang telah kita pulihkan," ujarnya di hadapan warga.
Pemprov Riau mencatat, selain luasan restorasi, sejumlah infrastruktur pendukung telah dibangun di tingkat tapak. Rinciannya meliputi 2.077 unit sekat kanal dan 1.125 unit sumur bor untuk menjaga tata air gambut.
Upaya itu dibarengi dengan revegetasi seluas 390 hektare serta 291 paket revitalisasi ekonomi masyarakat, agar pemulihan ekologi berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga.
Dari sisi perencanaan, Riau telah memiliki rencana perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut di tingkat provinsi. Dokumen serupa juga telah disusun di lima kabupaten, yakni Bengkalis, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir.
Hariyanto berharap pengalaman restorasi di Tanjung Leban tidak berhenti sebagai keberhasilan lokal. Praktik baik di Bengkalis itu diminta menjadi model pembelajaran bagi pengelolaan gambut di daerah lain di Riau.
"Praktik yang sudah berhasil wajib kita lanjutkan, sementara yang masih kurang akan terus kita sempurnakan bersama," pungkasnya.*****