Inflasi Pekanbaru 2,62 Persen, Lebih Rendah dari Riau dan Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:49:14 WIB
Wako Agung Nugroho Meninjau Kondisi Harga Sembako di Pasar Tradisional/F: ist

PEKANBARU, LIPO - Inflasi Kota Pekanbaru pada September 2026 memang masih terkendali di angka 2,62 persen (yoy), namun lonjakan harga cabai merah di pasaran mulai mengkhawatirkan warga.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (1/10/2026), inflasi bulanan Pekanbaru tercatat 0,63 persen. Angka ini masih lebih baik dibandingkan Provinsi Riau yang mencapai 2,79 persen (yoy) dan 0,64 persen (mtm), serta nasional yang menyentuh 3,28 persen (yoy).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Pekanbaru, Mahyuddin, mengklaim capaian ini cukup baik karena konsisten berada di bawah rata-rata provinsi dan nasional.

"Untuk Provinsi Riau, inflasi tahunannya di angka 2,79 persen dan bulanannya 0,64 persen. Sedangkan nasional tahunannya 3,28 persen," ujar Mahyuddin usai rilis inflasi daring bersama BPS.

Di balik angka inflasi yang terkendali itu, BPS mencatat cabai merah sebagai komoditas penyumbang inflasi terbesar di Pekanbaru.

Di pasaran, harganya sudah terbang tinggi. Cabai merah Bukittinggi dijual Rp86 ribu per kilogram, sementara cabai merah Medan Rp75 ribu per kilogram.

Mahyuddin menyebut, kenaikan harga dipicu anjloknya produksi di tingkat petani sehingga pasokan menipis. Hal itu ia temukan langsung saat tim meninjau sentra produksi di Sumatera Utara.

"Kebetulan kita baru pulang dari Medan, langsung ke sentra produksinya, itu di petani saja sudah Rp50 ribu (per kg). Dari pengakuan petani, berkurangnya hasil produksi ada karena hama dan kekeringan," jelasnya.

Kondisi ini membuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Pekanbaru harus putar otak. Saat ini, Pemko Pekanbaru mengintensifkan monitoring harga harian dan menyiapkan langkah taktis untuk meredam gejolak harga cabai di pasaran.*****

 

Terkini