Jum'at, 29 Mei 2020
Follow:
 
Lawan Corona dengan Menjaga Wudhu

ELFI | Bandar Serai
Senin, 30/03/2020 | 11:44:16 WIB
LIPO - Setiap makhluk pasti mati. Allah SWT berfirman : "Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula". (QS Az Zumar : 30). 

Tiada ciptaan abadi yang diberi sang pencipta. Dilahirkan dari rahim yang sama namun ditakdirkan dengan batas waktu ditentukan oleh Allah SWT selama hidup di dunia (sementara). Bahkan malaikat pencabut nyawa pun nantinya juga akan merasakan mati dan hanya Allah lah yang kekal. 

Perbedaan kematian hanya dari segi waktu, usia dan keadaan. Tiada satupun makhluk dapat meramalkan kapan kematian itu tiba. Teknologi yang di agung-agungkan  selama ini oleh seluruh dunia belum seberapa dibandingkan dengan kebesaran kuasa Allah SWT.

Beberapa minggu lalu dunia dikejutkan dengan adanya bencana berupa virus corona atau dikenal Covid-19 dengan serangan bersifat biologis. Apakah Covid-19 merupakan suatu takdir dilimpahkan Allah?. Jika memang demikian kita tidak perlu lari dari kenyataan karena Allah telah berfirman : "lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melalaikan dari kematian atau pembunuhan, dan jika kamu terhindar dari kematian kamu tidak juga mengecap kesenangan kecuali sebentar saja". (QS Al Ahzab : 16). 

Banyak korban berjatuhan di Negara maju maupun Negara berkembang. Masyarakat, Bangsa dan Negara khawatir Covid-19 ini berkelanjutan mencari mangsa tanpa membedakan umat. Umat tak berdosa ikut berjatuhan. Ini ujian apakah ia tetap berpegang pada keimanan yang dianut kepercayaannya itu. Sementara umat berdosa, Allah berikan Azab agar mereka bertobat supaya mematuhi dan melaksanakan segala perintah serta melawan setiap larangan Allah haramkan.

Perusakan secara fisik merusak kehidupan dunia. Namun, perusakan secara batin menghancurkan dunia akhirat. 

Covid-19 termasuk perusakan secara batin menghancurkan dunia akhirat. berbagai macam upaya dilakukan para ahli medis namun tak kunjung reda, justru jumlah korban positif corona semakin meningkat.

Menghadapi Covid-19 ini, umat muslim diminta untuk senantiasa menyucikan diri dengan cara berwudhu sehingga virus ini tidak mampu menembus penyebaran secara signifikan. Juga dalam mengkonsumsi makanan harus berdasarkan syariat islam. Kendati demikian, umat muslim senantiasa mengkonsumsi makanan yang teruji halal, seperti hewan tidak berbisa (ayam) berdasarkan syariat islam. Di samping itu, anjuran membasuh dua tangan setiap harinya merupakan bagian dari tata cara berwudhu. Artinya, berwudhu dapat mencegah meminimalisir terjangkit Covid-19.

Umat islam bukan berarti kebal terhadap Covid-19 hanya saja memiliki daya tahan tubuh kuat semata-mata disebabkan oleh sentuhan air bekas wudhu.  Oleh karenanya penulis mengajak seluruh umat islam selalu berwudhu. Sebab virus ini sangat berbahaya akan tetapi kita tidak perlu takut meskipun menimbulkan kerugian besar sehingga layak dihindari. Juga tindakan meremehkan akan berpotensi kerugian yang datang melainkan potensi kematian, bagi diri sendiri atau orang lain. Berbagai upaya preventif telah dilakukan salah satunya ikhtiar batin yang senantiasa menjaga kebersihan lewat wudhu. 

Tujuan disyariatkannya wudhu ini adalah untuk membersihkan segala kotoran najis dan hadas. 
Menurut Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim dalam kitabnya Fiqh at-thaharah, najis dan hadas itu adalah kotoran manusia (tinja), air kencing, darah haid, kotoran hewan yang tidak dimakan dagingnya,  air liur anjing dan hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya.

Di samping itu, berwudhu juga bermanfaat bagi kesehatan jasmani dan rohani. Penelitian membuktikan bahwa wudhu mengandung manfaat yang besar bagi kesehatan karena mampu merangsang dan menstimulus energi dalam tubuh serta melancarkan peredaran darah.

Menilik persoalan Virus corona atau Covid-19 jangan lah takut sebab yang ditakuti hanyalah Allah. Sesuai dengan sabda Rasulullah "Abu Hurairah radliallahu'anhu berkata ; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : 'Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebut tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan shafar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (rengkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan).' Lalu seorang Arab Badui berkata ; "Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan unta yang ada di pasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?" Maka Nabi  shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : 'Siapakah yang menulari yang pertama'." (HR. al-Bukhari). Artinya hadits di atas menjelaskan bahwa hanya Allah yang menentukan sakit tidaknya seseorang. (lipo*1)



Penulis : 
Reki Wahyudi
Semester : 4
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Riau




Berita Lainnya :
 
  • Sukseskan New Normal, Polda Riau Libatkan 1.131 Personel
  • RSUD Arifin Achmad Buka Pelayanan Swab Untuk Masyarakat
  • Jokowi Sebut Pembukaan Sektor Pariwisata tak Usah Tergesa-gesa
  • Sepekan Tak Ada Penambahan Kasus Positif Covid- 19 di Pekanbaru
  • 3 Kabupaten di Riau Ini Tak Perlu Jalani New Normal, Ini Alasannya
  • Kebijakan New Normal Dilaksanakan, Pemkab Siak akan Buka Kembali Istana Siak
  • Gugus Tugas Penanganan Covid 19 Kabupaten Siak Dukung Penuh kebijakan New Normal
  • Data Grafis Pasien Covid-19 Inhil Terus Turun
  • Wabup SU Ucapkan Terima Kasih Atas Bantuan DPC PKB Inhil Dalam Penanggulangan Covid-19
  •  
     
     
     
       
    Nasional Daerah
    Politik Hukrim
    Ekonomi Otomotif
    Sport Internasional
    Hiburan Bandar Serai
    Lifestyle Tekno
    Travelling    
       
    Copyright © 2014-2015 LiputanOke.Com, All Rights Reserved - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index