PEKANBARU, LIPO - Pemerintah Kota Pekanbaru memperkuat strategi pencegahan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dengan pendekatan berbasis keluarga, edukasi dini, dan penguatan peran tokoh agama.
Langkah tersebut ditegaskan Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, yang menyebut isu LGBT tidak bisa dibiarkan dan membutuhkan keterlibatan semua pihak.
"Usaha untuk menghambat laju LGBT itu adalah penguatan ketahanan keluarga," tegas Markarius kepada wartawan, Minggu (25/10/2026).
Menurutnya, penguatan karakter di dalam keluarga menjadi benteng utama untuk mencegah persoalan sosial. Markarius menilai persoalan LGBT tidak terbatas pada kelompok ekonomi tertentu, sehingga kewaspadaan harus dibangun mulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan sekolah.
"Keluarga punya peran penting membangun karakter anak, memberikan pemahaman yang tepat, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda," ujarnya.
Selain keluarga, Pemko Pekanbaru juga akan melibatkan ulama dan mubalig secara masif. Markarius mengaku telah meminta secara khusus kepada para ustaz agar memasukkan tiga isu krusial dalam materi dakwah dan khotbah Jumat.
"Tolong ustad-ustad sampaikan tentang LGBT dan risiko HIV/AIDS ini, termasuk narkoba. Ada tiga hal yang harus disampaikan, LGBT, narkoba, dan HIV/AIDS," ungkapnya.
Ia berharap pesan moral melalui mimbar agama lebih efektif meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat.
Langkah ini, kata Markarius, tidak terlepas dari data kasus HIV/AIDS di Pekanbaru yang terus meningkat. Ia menyebut jumlah kumulatif kasus di ibu kota Provinsi Riau tersebut telah melampaui angka 7.000 kasus.
Peningkatan kasus tersebut, lanjutnya, dipengaruhi oleh perilaku berisiko, termasuk hubungan seksual tidak aman yang berkaitan dengan fenomena LGBT, serta penggunaan jarum suntik bergantian.
Karena itu, Markarius mengajak kolaborasi pentahelix mulai dari orang tua, tenaga pendidik, ulama, pemerintah, dan masyarakat umum untuk bergerak bersama.
"Upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Butuh dukungan keluarga, tokoh agama, sekolah, dan lingkungan masyarakat," pungkasnya.*****