Pencerahan untuk Warga Desa dan Pemilik Warung Kelontong di Riau

Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:21:20 WIB
Edy Natar Nasution/ist

Bapak, Ibu, Tokoh Masyarakat, dan Saudara-saudaraku sekalian di seluruh pelosok Bumi Lancang Kuning...

Belakangan ini, ruang publik dan grup WhatsApp kita sering diramaikan oleh isu miring soal rencana Presiden Prabowo membangun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Ada desas-desus liar sengaja diembuskan, katanya koperasi ini mau mematikan warung kelontong warga, bahkan gosipnya lebih ngeri lagi, mau menutup paksa usaha kecil warga di desa.

Saya selaku koordinator GMKR di Riau ingin mengajak kita semua duduk jernih, berpikir cerdas, dan meluruskan apa sesungguhnya niat baik di balik program ini agar kedaulatan ekonomi kita tidak mudah dipecah belah dan diadu domba oleh para pemain besar.

*MARI PAHAMI ANALOGI SEDERHANA INI:*

Selama ini, warung kelontong warga kalau belanja stok barang *(minyak, beras, sabun)* harus ke agen besar atau pasar induk di kota. Karena jumlah belanjanya sedikit dan jarak tempuh ke kota cukup jauh, agen yang di kota tentu ngasih harga mahal. Belum lagi ongkos transportasinya. Sampai di desa, warung warga terpaksalah menjual dengan harga agak mahal ke tetangga biar dapat sedikit untung.

Di sisi lain, saat petani sawit, karet, atau sayuran kita di Riau ini panen, datang tengkulak besar dari kota membeli dengan harga yang sangat murah. Kita *"dipaksa"* menjual karena gak punya gudang penyimpanan. Akhirnya? Yang kaya raya tetap saja segelintir orang di kota, modal warga desa kita habis begitu saja.

Nah, Koperasi Merah Putih ini ibaratnya adalah *“Truk Raksasa Gotong Royong”* milik desa kita sendiri yang modalnya dibantu pemerintah.

*1?? Saat Belanja Barang:* Truk raksasa ini langsung pergi ke pabrik besar di kota, membeli minyak goreng, gula, dan beras langsung dalam jumlah besar. Karena belinya langsung ke pimpinan pabrik, sudah pasti harganya jauh lebih murah. Nah, barang murah dari truk ini nantinya tidak akan dijual eceran untuk menyaingi warung warga, tapi justru didistribusikan langsung ke warung-warung kelontong milik warga di desa dengan harga grosir yang sangat murah!

*2?? Saat Musim Panen:* Koperasi ini juga dilengkapi fasilitas gudang dan logistik di desa. Begitu petani panen, koperasi yang akan membeli dengan harga yang adil dan pantas. Hasil panen itu dikelola dengan baik, lalu disalurkan juga ke warung warga untuk dijual kembali. Tengkulak nakal yang selama ini rata-rata dari kota, gak akan bisa lagi mempermainkan harga kita. *SIAPA YANG SEBENARNYA PANIK DAN GERAH?*

Kalau warung warga dapat barang lebih murah, dan petani dapat harga jual tinggi, lalu siapa yang rugi?
Yang rugi adalah para tengkulak besar dan raksasa ritel modern (minimarket waralaba) di kota yang selama ini mengambil untung besar dari keringat kita!

*Nah... Mereka inilah yang sekarang panik.* Karena panik, merekapun sengaja mengembuskan isu-isu bohong lewat medsos atau bisikan-bisikan, biar warga takut lalu menolak koperasi ini. Jika kita menolak, merekalah yang akan tetap menjajah ekonomi desa kita selamanya. Nah! sampai disini pahamkan?

YUK, SINGKIRKAN DULU SENTIMEN POLITIK SUKA ATAU TIDAK SUKA !

Bapak Ibu sekalian, mungkin di antara kita masih ada yang punya ganjalan di hati atau kurang sreg dengan sosok Presiden Prabowo, karena urusan politik atau pemilu yang lalu-lalu. Itu sangat wajar dan merupakan hak politik masing-masing.

Saya sangat paham dan memaklumi hal ini. Tapi mari kita berpikir cerdas demi isi dompet, masa depan dapur, dan kedaulatan tanah kita sendiri!
Urusan suka atau tidak suka pada sosok presiden, itu nomor dua. Yang penting saat ini adalah: *Apakah program ini menguntungkan warga desa kita atau tidak?*

Kalau program koperasi ini nyata-nyata bisa bikin harga beras murah, kebutuhan pokok lancar, dan warung kelontong warga akan untung banyak, kenapa kita harus menolaknya hanya karena hasutan dari luar?

Jangan sampai karena kita menutup mata  akibat sentimen politik masa lalu, kita malah ikut menyukseskan _*niat jahat para oligarki dan tengkulak yang menginginkan program ini gagal.*_ Kalau program ini gagal, yang tertawa lebar adalah mereka yang selama ini kenyang di kota, sementara kita di desa tetap saja susah.

*Kata Penutup*
Kebijakan Presiden Prabowo lewat Koperasi Merah Putih sebenarnya sangat mulia. Beliau berharap uang yang ada di desa, berputar didesa kita lagi dan kembali ke dompet warga desa kita sendiri. Tidak seperti selama ini, hanya dinikmati oleh para tengkulak yang sesungguhnya mereka ini adalah bagian dari *Oligarki.*

Jika terdapat kekurangan disana sini, tentu sesuatu yang sangat wajar karena progra ini masih baru, karenanya mari kita bantu bersama-sama.

Koperasi Merah Putih bukanlah musuh dari warung tetangga, tapi justru *"benteng dan penyuplai"* agar warung kelontong warga bisa tumbuh semakin maju dan besar.

Yang perlu kita awasi saat ini, justru jika ada oknum yang bermain dilapangan yang mencoba mengambil keuntungan pribadi, ditengah upaya Presiden memperbaiki bangsa ini, *bersama-sama GMKR, mari kita perangi tanpa ampun.*

Mari bersatu kembali! Jangan mau dikompori oleh orang luar yang cuma mau mengeruk keuntungan dari kampung kita.

Kita manfaatkan modal dan fasilitas dari Pemerintah ini, lalu kita kawal bersama-sama secara konstitusional, agar para Pengurus Koperasi di desa jujur, amanah, dan benar-benar bekerja untuk memajukan warung serta petani lokal!

*Katakanlah yang benar itu benar walau tersa pahit*

Salam Perjuangan,

*Edy Natar Nasution,* Koordinatar GMKR (Gerakan Mengembalikan Kedaulatan Rakyat) di Riau ??????????

Tags

Terkini