Hilangnya Kecerdasan Intelektual Seringkali Dikarenakan Oleh "Teror" Rasa Takut Diri Sendiri

Hilangnya Kecerdasan Intelektual Seringkali Dikarenakan Oleh
Edy Natar Nasution/ist

Di tengah kondisi NKRI yang saat ini sedang tidak baik-baik saja, banyak kaum intelektual yang mendadak linglung dan memilih diam.

Secara logis, fenomena ini terjadi bukan karena hilangnya kepedulian, melainkan akibat kalkulasi rasional, terkait keselamatan hegemoni kekuasaan dan biaya sosial yang harus ditanggung jika mereka bersuara.

Rasa takut alamiah dapat membajak kemampuan berfikir logis seseorang. Kecerdasan seringkali lumpuh oleh kekuatan akan intimidasi atau hilangnya kenyamanan, sehingga keberanian intelektual menjadi tumpul dalam menyuarakan kebenaran.

Orang dengan kecerdasan intelektual tinggi, sangat mahir memproyeksikan akibat dari sebuah tindakan. Ketika mereka melihat ruang kebebasan sipil menyempit, dan kritik kerap dianggap sebagai sebuah ancaman, otak logis mereka dengan cepat akan menghitung resiko.

Bersuara keras di ruang publik membawa sebuah konsekuensi nyata berupa serangan reputasi, intimidasi, hingga ancaman kriminalisasi.

Pilihan untuk diam adalah mekanisme pertahanan diri yang dinilai paling rasional untuk melindungi keluarga, karir dan masa depan mereka sendiri. Logika pragmatisme inilah yang seringkali mengalahkan idealisme.

*Anatomi logika VS Ketakutan

Berfikir logis, menuntut pikiran yang jernih, kemampuan memproses fakta secara obyektif, dan keberanian menerima konsekuensi.

"Mengapa seseorang memilih diam? seringkali kita melihat seseorang yang sangat cerdas mendadak terlihat "dungu" (meminjam istilah Rocky Gerung), bahkan banyak yang membungkamkan diri di saat situasi genting. Hal ini terjadi karena tuntutan emosional telah membungkam kecerdasan intelektual mereka.

*Melawan rasa takut dengan logika

Untuk menyuarakan kebenaran, seseorang harus menyadari bahwa emosi dan logika harus dipisahkan terlebih dahulu.

Langkah awal untuk memisahkan kecerdasan adalah dengan merangkul rasa takut tersebut, mengevaluasi fakta yang sebenarnya terjadi, dan memberikan batas waktu sebelum mengambil keputusan.

Dalam situasi genting, apalagi dihadapkan kepada situasi NKRI saat ini yang tidak baik-baik saja, tidak sedikit kaum intelektual yang benar-benar bingung (linglung) menentukan sikap karena masivnya arus informasi dan propaganda.

Di era di mana data dan kebijakan seringkali disajikan secara bias, para akademisi dan ahli membutuhkan waktu lama untuk memverifikasi kebenaran sebelum berani mengambil sikap politik. Akhirnya yang terjadi adalah hilangnya kecerdasan intelektual.

Dan itu semua sebenarnya lebih dikarenakan oleh "teror'rasa takut diri sendiri.

Pekanbaru, Selasa 16 Juni 2026,

*Penulis

*Edy Natar Nasution

*Koordinator GMKR di Riau.

Ikuti LIPO Online di GoogleNews

#Edy Natar Nasution

Index

Berita Lainnya

Index