Minggu, 18 April 2021
Follow:
 
Tiga Kali Dipanggil Jaksa, Ketua KONI Kampar Tetap Mangkir

Elfi | Hukrim
Rabu, 03/03/2021 | 23:31:50 WIB
Ilustrasi/int
TERKAIT:
 
 
LIPO - Untuk ketiga kalinya
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kampar, Surya Darmawan, tidak memenuhi panggilan jaksa penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau. Surya dipanggil Jaksa terkait dugaan korupsi pembangunan ruang rawat inap tahap III di RSUD Bangkinang.

"Sudah tiga kali (dipanggil), belum datang juga," ujar Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau, Hilman Azazi, Rabu (03/03/2021).

Pertama kali Surya dipanggil pada Rabu (17/2/2021) lalu. Ia tidak datang tanpa memberikan alasan.

Ketika penanganan kasus ditingkatkan ke penyidikan, jaksa penyidik kembali melayangkan panggilan kedua, lagi-lagi Surya tidak hadir.

Lalu, surat panggilan ketiga pun kembali dilayangkan jaksa penyidik belum lama ini. Lagi-lagi Surya tidak hadir tanpa alasan. 

"Nanti kita cek, apakah panggilannya sampai," ucap Hilman.

Mesti sudah tiga kali mangkir, tapi tim jaksa penyidik belum menentukan sikap terhadap Surya, apakah akan dijemput paksa atau tidak. Menurut Hilman, penyidik akan kembali berkoordinasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Dalam Pasal 224 ayat (1) KUHP dinyatakan, 'Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam: 1) dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan; 2) dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan'.

Sementara itu, dalam Pasal 112 ayat (2) KUHAP berbunyi 'Orang yang dipanggil wajib datang kepada penyidik dan jika ia tidak datang penyidik memanggil sekali lagi, dengan perintah kepada petugas untuk membawa kepadanya. "Nanti, langkah-langkah dirembukkan lagi sama penyidik," ucap Hilman,

Terpisah, Surya yang dikonfirmasi wartawan terkait ketidakhadirannya tidak menampik kalau menerima surat dari Kejati Riau. Ia diminta memberikan keterangan pada Rabu (3/3/2021).

"Kemarin saya ada terima surat, tapi bukan atas nama saya. Kemarin ada yang antar ke rumah orang tua saya. Hari Senin kalau gak salah," kata Surya.

Dia menyebutkan, alasan tidak memenuhi panggilan jaksa penyidik karena nama yang tercantum di surat bukan lah namanya. Di surat itu, tertulis Surya Dermawan. 

"Nama saya Surya Darmawan," tuturnya.

Selain Surya Darmawan, hari ini jaksa penyidik juga mengagendakan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi lainnya. Mereka adalah Abdul Jalil, Sudi Ridwan, Benny Tanardi, Taufik, Mayusri ST, Abdul Kadir Jailani, dan Minny Sulistyowati.

Penyidikan perkara ini dilakukan berdasarkan surat perintah penyidikan (sprindik) nomor : PRINT-03/L.4/Fd.1/01/2021. Surat itu ditandatangani pada 22 Januari 2021 oleh Kepala Kejati Riau kala itu, Mia Amiati.

Sejumlah saksi telah diperiksa, di antaranya, Direktur RSUD Bangkinang, Asmara Fitrah Abadi, mantan Direktur RSUD Bangkinang periode 2017-2019, Andri Justian, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kampar, Musdar.

Selain itu, proses yang sama juga dilakukan terhadap Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kampar, Edward, dan seorang anggota Pokja, Dicky Rahmadi.

Informasi yang dihimpun, ada dua perusahaan ikut tender proyek pembangunan ruang rawat inap II RSUD Bangkinang, yakni PT Gemilang Utama Alen berlokasi di Kompeks Bumi Sudiang Permai Jalan Perum Sudiang Raya Blok A 151 Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) dan PT Razasa Karya.

PT Gemilang Utama Alen mengajukan penawaran senilai Rp46.492.675.038,79. Sementara, PT Razasa Karya melakukan penawaran Rp39.745.062.802,42. Meski nilai penawaran lebih kecil tapi PT Razasa Karya kalah oleh PT Gemilang Utama Alen.

Disebutkan juga, dalam pengerjaan proyek itu, PT Gemilang Utama Alen menggandeng pihak lain atau meminjam bendera perusahan lain. Disinyalir, Surya Darmawan lah yang mengerjakan proyek tersebut.

Diketahui, proyek itu sesuai kontrak seharusnya selesai pada akhir 2019. Namun hal itu tidak terwujud. Rekanan hanya mampu menyelesaikan dengan progres 92 persen.

Dilihat dari sisa kegiatan sebesar 8 persen lagi, itu bukan nilai yang cukup besar. Namun dari informasi yang didapat, sejumlah pekerjaan dengan nilai yang cukup besar masih tersisa. Seperti, pemasangan satu dari tiga unit lift. Begitu juga dengan sejumlah AC belum terpasang.

Selain itu, sejumlah pekerjaan yang telah dilakukan dinilai asal-asalan. Seperti, di bagian teras pintu utama gedung, dimana pekerjaan belum selesai, seperti lantai, plafon serta tiang utama.

Kemudian, ditemukan beberapa dinding ruangan disulap menjadi tripleks dan beberapa lorong ditemukan plafon sudah rusak parah banyak yang bocor digenangi air. Beberapa tiang utama juga diketahui mengalami retak-retak.

Kendati tidak selesai, saat itu rekanan tidak dimasukkan dalam daftar hitam atau blacklist. Hal itu baru dilakukan pada medio Agustus 2020. (*1/***)



Berita Lainnya :
 
  • Pemprov Riau Sebut Efisiensi Anggaran Rp36 Miliar dari Tender 58 Paket Kegiatan
  • Messi Cetak Sejarah, Kedua Terbanyak Peroleh Trofi
  • Hadirkan Konten Video Vision+ Original Series hingga Live TV Nasional di Aplikasi MAXstream
  • Jozeph Paul Tantang Bagi yang Bisa Laporin ke Polisi Diberi Hadiah, NU Bereaksi Keras
  • Polisi Peraih Pin Emas Himbau Jama'ah Salat Tarawih Tetap Waspada
  • Pj Sekdaprov Riau Larang ASN Mudik
  • Tim Penggerak PKK Kabupaten Siak & PT BSP Serahkan Bantuan Sembako
  • Bupati Siak Lantik Bapekam Perawang Barat & Pinang Sebatang Barat
  • Doni Monardo: Dilarang Mudik Bukan Berarti Sebelum Tanggal 6 Mei Boleh Mudik
  •  
     
     
     
       
    Nasional Daerah
    Politik Hukrim
    Ekonomi Otomotif
    Sport Internasional
    Hiburan Bandar Serai
    Lifestyle Tekno
    Travelling    
       
    Copyright © 2014-2021 LiputanOke.Com, All Rights Reserved - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index