Sabtu, 28 Mei 2022
Follow:
 
Selamat Hari Guru: Penggerak Peradaban Indonesia Maju

ELFI | Bandar Serai
Minggu, 28/11/2021 | 11:44:38 WIB
Suten Sumarten/LIPO
TERKAIT:
 
 
LIPO - Adapun setiap 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Momen ini juga bertepatan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Peringatan Hari Guru secara resmi ditetapkan pada 1994 melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tentang Hari Guru Nasional.

Hari Guru Nasional tahun ini dirayakan dengan berbagai kegiatan seremonial dan momen untuk memberikan ucapan kata-kata, tulisan kebanggaan, puisi atau bahkan surat untuk para guru kita yang telah mendidik secara sukarela.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dalam pidatonya pada Hari Guru 2021, mengatakan, hampir dua tahun dunia pendidikan dipaksa berhadapan dengan pandemi virus corona. Oleh karenanya, diperlukan inovasi, kreativitas, dan dedikasi guru untuk menyukseskan penyelenggaraan pendidikan. Presiden pun mengajak seluruh pihak bahu membahu mengatasi pandemi agar bidang pendidikan dan sektor-sektor lainnya dapat pulih kembali.

"Hampir dua tahun dalam selubung pandemi, dunia pendidikan kita tetap berjalan berkat inovasi, kreativitas, dan dedikasi para guru mengawal pendidikan generasi muda. Kini, seraya bekerja keras mengakhiri pandemi ini, mari bergandeng-tangan untuk bersama memulihkan pendidikan," tulis Jokowi.

Pada 2021 ini, peringatan Hari Guru Nasional mengangkat tema "Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan." Dalam pidato Mendikbud Nadiem Makarim, mengulas mengenai duka guru yang melihat siswa-siswinya tertekan karena kurikulum yang disederhanakan untuk pembelajaran jarak jauh.
 
Tak hanya itu, Mendikbud Ristek juga mengisahkan sewaktu dirinya menginap di rumah guru honorer di Lombok Tengah, rumah Guru Penggerak di Yogyakarta, dan pesantren di Jawa Timur.

"Saat sarapan dengan mereka, saya mendengarkan terobosan-terobosan yang mereka inginkan di sekolah. Wajah mereka terlihat semangat membahas platform teknologi yang cocok dan tidak cocok untuk mereka. Dengan penuh percaya diri, mereka memuji dan mengkritik kebijakan dengan hati nurani mereka," kata Nadiem.
 
Pada akhir pidatonya, Nadiem Makarim menegaskan tidak akan menyerah dalam memperjuangkan merdeka belajar untuk kehidupan dan masa depa guru Indonesia yang lebih baik. Tak lupa, Nadiem juga mengucapkan terima kasih kepada semua guru se-Indonesia atas pengorbanan dan ketangguhannya dalam proses belajar mengajar. 

Dari pidato Kemendikbud Ristek tersebut, kita bisa menilai atas kerja keras dan keberhasilan Kemendikbud Ristek dalam program menyebarkan Guru Penggerak tak bisa dianggap sepele. Dari 24 Provinsi dan 300-an lebih Kabupaten/Kota telah mengisi ruang kosong pendidikan Indonesia.

Guru penggerak sudah mengisi dan memimpin pembelajaran diberbagai sekolah-sekolah diseluruh Indonesia. Buktinya, guru penggerak mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam belajar. Hal ini yang patut kita banggakan.

Kemampuan guru penggerak implementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid serta menjadi teladan dan agen transformasi sistem pendidikan untuk mewujudkan Indonesia pintar dan maju.

Guru penggerak telah berperan ganda dalam memajukan Indonesia. Berbagai komunitas belajar telah terbangun koneksi komunikasi bersama rekan guru di seluruh sekolah. Lebih jauh, mengelaborasi praktik pembelajaran sehingga mendorong peningkatan percaya diri, leadership dan kemampuan pikiran (intelektual) murid di sekolah.

Seperti kisah Salbiati, seorang guru penggerak di pesisir Dompu Pulau Sumbawa. Kisah yang mengharukan itu, telah memotivasi seluruh rekan-rekan guru di sekelilingnya. Salbiati, setiap ke sekolah selalu tepat waktu dan mmbuka ruang diskusi positif. Kegiatan olah raga dan berbagi pengalaman motivasi guru dalam kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam maupun luar sekolah.

Hal itulah, yang membuat Salbiati yakin sebagai guru penggerak dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendorong well-being ekosistem pedidik di sekolah. Salbiati, penyandang Guru penggerak tersebut, masuk dalam kategori guru yang sangat diharapkan dan dibanggakan oleh Kemendikbud Ristek karena rekam jejaknya mampu menjadi pemimpin-pemimpin pendidikan di Pulau Sumbawa.

Tentu hal itu, indikator keberhasilan program guru penggerak Kemendikbud Ristek demi masa depan gemilang yang mewujudkan generasi unggul Indonesia Pintar dan Maju. Salbiati bercerita kalau untuk menjadi Guru Penggerak, harus mengikuti pendidikan guru penggerak selama 9 bulan dan pengembangan kompetensi dalam Lokakarya Bersama yang dilaksanakan oleh Kemendikbud Ristek.

Proses itu, telah menempa Salbiati untuk giat lakukan terobosan dalam peningkatkan kapasitas kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran yang berpusat pada murid. Apalagi, selama ini, kita harus berbagi pengalaman belajar mandiri dan kelompok terbimbing, terstuktur, dan menyenangkan sehingga pendidikan Indonesia menjamin contoh kemajuan sumber daya manusianya.

Kebijakan program guru penggerak menentukan arah pendidikan Indonesia. Kini berhasil mendapatkan predikat berhasil. Tentu, keberhasilan itu bergantung pada upaya berbagi pengalaman belajar bersama dengan rekan guru lain yang sama-sama lolos seleksi program guru penggerak. Ditambah, mendapatkan bimbingan dan mentoring dari pengajar pendamping pendidikan.

Indonesia pintar dan maju menunjukan kebanggaan tersendiri. Karena guru penggerak sejumlah puluhan ribu tersebar diberbagai tingkat sekolah, mulai guru TK, SD, SMP, dan SMA dan SLB. 

Keseluruhan proses pembelajaran berlangsung selama 306 jam pelajaran (JP) disekolah - sekolah yang dijalankan dalam kurun waktu 12 bulan. Selain itu Guru Penggerak bertindak sebagai chalengge program, fasilitator, instruktur, pengajar praktik, dan sumber motivasi siswa.

Guru Penggerak telah mendedikasikan dirinya dalam upaya membangun peradaban Indonesia maju yang lebih baik. Bukan hanya mengajar dan mendidik atau membahas kurikulum dan hasil belajar, namun untuk melahirkan generasi pembaharu yang akan menjawab panggilan dan tantangan zaman, baik masa kini maupun masa depan.

Melalui Program Guru Penggerak, pemerintah sudah menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara, membangun ekosistem pendidikan di Indonesia yang merdeka dalam belajar serta selalu berpihak kepada peserta didik.

Berpihak kepada murid inilah yang harus menjadi orientasi utama setiap pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia. Program pendidikan guru penggerak memantapkan empat pilar pendidikan, yaitu kepemimpinan, pembelajaran sosial dan emosional, serta komunitas praktik.

Guru penggerak sudah memberikan output pendidikan untuk wujudkan rasa nyaman, bahagia kepada para peserta didik yang semuanya itu dapat ditunjukkan melalui sikap dan emosi positif. Bersikap positif terhadap proses akademik, merasa senang mengikuti kegiatan di satuan pendidikan.

Melalui program Guru Penggerak Kemendikbud Ristek, telah merubah paradigma kepemimpinan pendidikan Indonesia, dari paradigma kepemimpinan yang berfokus kepada administrasi pendidikan menjadi paradigma kepemimpinan yang berfokus kepada pembelajaran murid sehingga Indonesia bisa Maju.

Guru adalah kunci kesuksesan proses belajar mengajar. Semakin berkualitas seorang guru, akan memberikan dampak semakin besar terhadap keberhasilan murid. Berkualitasnya murid menentukan tingkat sumberdaya manusia Indonesia. Karena kemampuan sumberdaya itulah bisa membangun Indonesia lebih baik dimasa depan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makariim dalam pidato Hari Guru Nasional 2021 menegaskan, bahwa guru mengemban tugas termulia sekaligus tersulit untuk membentuk masa depan bangsa: "Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan. Anda frustrasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata, kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal."

Menurut Mendikbud Ristek Nadiem Makarim bahwa untuk tingkatkan kualitas guru dan pendidikan, Kemendikbud Ristek menjalankan program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pendidikan). Salah satu komponen dalam program tersebut adalah melatih guru untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi dalam pembelajaran di kelas.

Elemen pembelajaran yang diperkenalkan dalam program PINTAR adalah konsep MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi). Melalui cara belajar ini, guru berperan sebagai fasilitator dikelas, sehingga murid lebih aktif berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-temannya dalam mendiskusikan pelajaran.

Berikut beberapa contoh penerapan elemen pembelajaran MIKiR: seorang Tri Heni, guru kelas 4 SD di Riau, ini sungguh kreatif. Di sekolah, ia selalu mendorong murid-muridnya untuk belajar aktif. Saat melihat kelas yang diajar oleh Salbiati, orang mungkin akan terperangah. Karena kegigihan menyampaikan pembelajaran. Bagaimana tidak, di ruang kelasnya sering ditemukan benda-benda yang terlihat aneh. Satu waktu di meja depan kelasnya tersedia beras, gula, tepung, dan timbangan. Beberapa hari kemudian di kelasnya ada ulat, berudu, dan kupu-kupu.

Tri Heni memang sering membawa alat peraga yang tidak biasa ke dalam kelasnya. Saat meminta anak didiknya membawa gula, tepung, dan timbangan misalnya, dia sedang mengajarkan materi satuan panjang dan berat dalam aplikasi kehidupan sehari-hari. Pada hari yang sama dia sekaligus memperkenalkan jenis pekerjaan yang ada di pasar.

"Bersyukur bisa mengikuti pelatihan MIKiR. Metode ini membuat guru hanya bertugas mengantarkan, anak-anak yang akan mengalami dan observasi sendiri. Setelah itu mereka menyampaikan hasil observasinya. Hasilnya bisa jadi refleksi bersama teman-temannya." Kata Heni.

Setelah berada di dalam kelas, mereka identifikasi tanaman-tanaman yang mereka bawa apakah termasuk dikotil atau monokotil. Setelah itu mereka mendiskusikan lebih detail lagi seperti bagaimana cara perkembangbiakannya. 

Melalui metode MIKiR ini ternyata mahasiswa menikmati proses kuliah dan pemahaman mereka terhadap materi juga lebih baik.

Metode MIKiR ternyata memudahkan kita untuk memahami materi, karena kita merasakan langsung. Cara ini memudahkan guru, karena hanya bertindak sebagai fasilitator. Tapi hasilnya tetap optimal, karena murid bisa lebih mudah memahami.

Guru penggerak sudah mengisi dan memimpin pembelajaran diberbagai sekolah - sekolah diseluruh Indonesia. Buktinya, guru penggerak mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam belajar. Hal ini yang patut kita banggakan. Indonesia pun gemilang dimasa depan dan maju. (*1)


Penulis: 
Suten Sumarten, Pemerhati Pendidikan PAUD



Berita Lainnya :
 
  • Tim Tabur Kejaksaan Berhasil Menangkap Buronan Kasus Penggelapan di Jatim
  • Sederhana, Toleransi, Presiden Jokowi: Buya Syafii Maarif Sebagai Guru Bangsa
  • Diguyur Anggaran Ratusan Miliar, RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Diminta Tingkatkan Pelayanan
  • Gubri Sampaikan Duka Cita Mendalam Atas Meninggalnya Buya Syafii Maarif
  • GPMPPK Gelar Demo di Kejagung RI, Desak Kejaksaan Ungkap Kasus Dana Hibah Siak
  • Ikuti Bimtek & Studi Pengembangan Pengelolaan Desa Wisata, ini Harapan Alfedri
  • Ketua DPRD Kuansing Ajak Semua Warga Jadi Duta Wisata untuk Negeri Sendiri
  • Janji Tinggal Janji.... Mantan Honorer di Kuansing Riau Gembok Pagar Kantor Camat
  • Indonesia Berduka, Ulama Kharismatik Buya Syafii Maarif Dikabarkan Wafat
  •  
     
     
     
       
    Nasional Daerah
    Politik Hukrim
    Ekonomi Otomotif
    Sport Internasional
    Hiburan Bandar Serai
    Lifestyle Tekno
    Travelling    
       
    Copyright © 2014-2021 LiputanOke.Com, All Rights Reserved - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index