Rabu, 10 Agustus 2022
Follow:
 
Bikin Ibu-ibu Berteriak, Harga Cabai di Pekanbaru Riau Masih Bertahan di Harga Rp140 Ribu Per Kilo

Elfi | Ekonomi
Minggu, 03/07/2022 | 12:55:35 WIB
Ilustrasi/int
TERKAIT:
   
 
PEKANBARU, LIPO - Sejak sepekan terakhir, harga cabai merah di pasar dalam Kota Pekanbaru makin tak terkendali. Harga komoditi bahan pokok itu masih bertahan di angka Rp140 ribu per kilogram (kg).

Dari pantauan di sejumlah pasar tradisional, Ahad (3/6/2022) harga cabai rata-rata Rp140 ribu per kg. Kecuali kondisi cabai yang mulai kurang segar, namun masih tetap pada kisaran harga Rp120 ribu per kg. 

"Sejak sepekan terakhir harga cabai masih bertahan di harga Rp140 ribu per kg, bahkan untuk kondisi cabai yang masih segar ada yang mencapai Rp38 ribu seperempat kilo, atau Rp152 ribu per kg. Untuk beli cabai merah dengan bawang saja tidak cukup Rp200 ribu. Gawat macam mana lagi mengelola keuangan kalau semua kebutuhan harian naik seperti ini, ujar," Mardawati warga Marpoyan Damai saat ditemui di Pasar Dupa.

Demikian juga dengan cabai rawit setan, juga makin pedas seperti rasa cabainya yakni Rp130 ribu per kg. Harga yang agak miring hanya untuk cabai hijau, yang berkisar antara Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kg.

Namun khusus untuk bawang merah harga sebelumnya berkisar di atas Rp50 ribu per kg saat ini turun menjadi Rp45 ribu per kg. Demikian juga dengan telur ayam di harga Rp2 ribu per butir.

Selain itu, minyak goreng curah di pasar tradisional juga masih tinggi yakni Rp20 Ribu Per kg. namun untuk harga ayam potong mengalami penurunan yang cukup signifikan. dari sebelumnya Rp30 ribu per kg kini menjadi Rp22 ribu per kg.

Naiknya harga kebutuhan pokok juga diakui Dinas Perdagangan Kota Pekanbaru."Dari monitoring kita, memang harga komoditi itu naik cukup tajam, cabai, bawang merah dan telur," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pekanbaru Ingot Ahmad Hutasuhut.

Meski kenaikan harga khususnya cabai merah yang semakin pedas, namun disebutkan Ingot jika pihaknya tak bisa melakukan intervensi harga di pasar.

"Harga komoditi ini memang susah kita intervensinya," ujar dia.

Disampaikan Ingot, kenaikan harga yang terjadi bukan disebabkan kurangnya pasokan dari daerah penghasil.

"Pasokan gak (ada masalah). Tapi memang harga di daerah asalnya sudah naik, disebabkan mungkin karena distribusi, hasil panen, dan biaya produksinya (meningkat)," ucapnya.

"Untuk itu kita akan koordinasi dengan daerah lain, karena ini fenomena yang meluas, apa langkah-langkah yang akan kita tempuh, dan kita memang prihatin. Semoga segera normal lah harganya," tutup Ingot menambahkan.(lipo*3)




Berita Lainnya :
 
  • Kejari Kota Mojokerto Telisik Dugaan Penyelewengan Dana CSR
  • Kasus Pengadaan Tower PLN, Dua Saksi Diperiksa Penyidik Kejagung
  • Kinerja Kejaksaan RI Meningkat, Majelis Adat Dayak Nasional Apresiasi Kepemimpinan Burhanuddin
  • Bupati Alfedri Sambut Kepala SKK Migas di Istana Sultan Siak Asserayah Hasyimiyah
  • Husni Merza: Aplikasi 'SEPAKAT' Menjawab Problematika Kemiskinan di Kabupaten Siak
  • WK CPP Dikelola 100 Persen Daerah
  • Bersama BINDA Riau, PWI Kuansing Gelar Vaksinasi Merdeka Sisir Desa Terluar
  • Kejakgung Sita 23 Bidang Tanah Duta Palma Terkait Korupsi Lahan Sawit di Inhu
  • Pemerintah Naikan Tarif Ojek Online, Berikut Rinciannya
  •  
     
     
     
       
    Nasional Daerah
    Politik Hukrim
    Ekonomi Otomotif
    Sport Internasional
    Hiburan Bandar Serai
    Lifestyle Tekno
    Travelling    
       
    Copyright © 2014-2021 LiputanOke.Com, All Rights Reserved - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index