PEKANBARU, LIPO - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhamad Mardiono, menggelar Safari Ramadhan di Pondok Pesantren Babussalam, Pekanbaru, Riau, Minggu 1 Maret 2026.
Kedatangan orang nomor satu di tubuh PPP itu disambut langsung oleh pimpinan Ponpes, Syech Ismail Royyan, serta jajaran pengurus dan kader PPP Riau.
Hadir mendampingi Mardiono, Ketua DPW PPP Riau Ikbal Sayuti beserta pengurus dan kader partai. Sejumlah tokoh juga tampak hadir, termasuk mantan Gubernur Riau, seperti Syamsuar, Wan Thamrin Hasyim, Saleh Djasit, Edy Natar Nasution, hingga anggota DPD RI KH Muhammad Mursyid.
"Ini sudah kali kedua saya bersilaturahmi ke sini. Alhamdulillah, kita bisa bertemu dengan para tokoh, ulama, dan kader PPP. Ini bagian dari konsolidasi yang terus kami bangun," ujar Mardiono.
Di hadapan para kader dan ulama, Mardiono menegaskan bahwa PPP tidak bisa dipisahkan dari para kyai dan tuan guru. Menurutnya, sejarah perjuangan partai berlambang Kabah itu sejak awal lahir dari rahim Nahdlatul Ulama dan gerakan Islam tradisional.
"PPP tidak pernah jauh dari ulama. Kita harus berpolitik dengan berpegang pada nilai-nilai keislaman. Tidak mungkin antara ulama dan umara ini dipisahkan. Karena kalau dipisahkan, kebijakan yang lahir tidak akan dilandasi akhlak yang terpuji," tegasnya.
Ia menambahkan, ulama memiliki kewajiban untuk mengingatkan para pemimpin jika kebijakan mulai melenceng dari koridor kebenaran.
"Setiap kebijakan harus dilandasi akhlak, harus menghadirkan kemaslahatan bagi umat. Di situlah peran ulama mengingatkan kita semua," imbuhnya.
Terkait kondisi PPP Riau yang belakangan mengalami tantangan elektoral, Mardiono mendorong agar partai segera bangkit dengan kembali ke jati diri perjuangan.
"Saya akan mendorong bagaimana PPP ini kembali pada dakwah keumatan. Berpolitik untuk mencegah kebatilan, menghadirkan kemaslahatan, dan menjauhkan kemudharatan. Ini tidak akan bisa jauh dari ulama," paparnya.
Mardiono secara khusus meminta kader PPP Riau untuk terus merawat hubungan dengan para guru, tuan guru, dan kyai. Apalagi, Riau adalah wilayah dengan kultur Melayu yang sangat kuat dan lekat dengan nilai-nilai keagamaan.
"Langkah politik PPP, apalagi di Riau, masyarakat Melayu yang sangat dikenal dengan nilai keislamannya, tidak boleh jauh dari ulama. Para tuan guru itu harus dekat dengan kader-kader PPP agar kebijakan yang diambil nanti tidak bertentangan dengan tugas ulama dalam amar ma'ruf nahi munkar," ujarnya.
Mardiono yang juga pernah menjadi pejabat negara tiga periode mengingatkan para kader yang duduk di pemerintahan atau legislatif untuk selalu ingat sumpah jabatan.
"Saya tiga kali menjadi pejabat negara. Tiga kali saya disumpah dengan Al-Qur'an. Demi Allah, saya bersumpah setia pada UUD 1945. Semua pejabat negara, dari Presiden sampai anggota DPR, Gubernur, Walikota, semua telah mengucapkan sumpah itu," katanya.
Menurutnya, sumpah itu bukan sekadar seremoni. Kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
"Karena itu, para kader yang diberi amanah harus bekerja sungguh-sungguh. Jangan sampai amanah itu dikhianati," pesannya.
Ia pun mengapresiasi arahan Presiden Prabowo yang ingin meluruskan dan mengingatkan para pejabat tentang sumpah jabatan mereka.
"Nah, tugas ulama-lah yang terus mengingatkan. Ini yang harus kita jaga bersama," tambah Mardiono.
Sementara itu, Ketua PPP Riau Ikbal Sayuti mengatakan kehadiran ketum Mardiono memiliki dua agenda saat kunjungan di Riau, yakni safari ramadhan ke Ponpes Babussalam, kemudian konsolidasi kader PPP bersama anggota Fraksi PPP se Riau.
"Setelah safari ramadhan adalah konsolidasi kader, kami akan mendengarkan arahan langsung dari Ketum," tuturnya.
Sementara itu pimpinan Pondok Pesantren Babussalam, Syech Ismail Royyan, menyambut baik kunjungan Ketum PPP dan rombongan. Menurutnya, silaturahmi antara ulama dan politisi merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan, apalagi di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah.
"Kami sangat mengapresiasi kehadiran Pak Ketum PPP dan rombongan di ponpes kami. Ini bukan sekadar kunjungan biasa, tapi bagian dari mempererat ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Ulama dan umara harus terus menjalin komunikasi, karena keduanya punya tanggung jawab yang sama terhadap umat dan bangsa," ujar Ismail Royyan.
Ia berharap, silaturahmi seperti ini tidak hanya berhenti di acara seremonial, tapi bisa dilanjutkan dengan program-program nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan dan keagamaan.
"Pesantren tentu berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan juga partai politik, terutama dalam mendukung pendidikan agama dan kegiatan keumatan. Semoga kehadiran Pak Mardiono membawa berkah bagi kita semua," tambahnya.*****