PEKANBARU, LIPO - Pemerintah Kota Pekanbaru bergerak cepat menindaklanjuti kasus diare yang menimpa warga di Jalan Pantau, RT 04/RW 05, Kelurahan Muara Fajar Barat, Kecamatan Rumbai Barat. Dari 7 warga yang terdampak, 2 orang meninggal dunia dan 5 lainnya kini telah dinyatakan sehat.
Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar turun langsung meninjau lokasi pada Jumat (10/7/2026) untuk memastikan kondisi warga sekaligus menyalurkan bantuan.
Markarius menyampaikan, pihaknya datang untuk memastikan kondisi para korban yang masih dalam pemulihan.
"Kami datang untuk memastikan kondisi lima korban yang tersisa sudah sehat. Selain itu, kami juga menyerahkan bantuan makanan dan tambahan gizi kepada 15 balita yang berada di lingkungan ini," kata Markarius Anwar.
Bantuan juga diberikan sebagai bentuk kepedulian Pemko agar daya tahan tubuh warga, khususnya balita, tetap terjaga.
Selain bantuan, Pemko juga melakukan pemeriksaan lingkungan untuk mengetahui penyebab kasus. Tim bersama puskesmas dan Dinkes mengambil sampel air sumur dan air galon warga.
"Hasil laboratorium menunjukkan sumur warga sudah diperiksa dan hasilnya negatif. Air galon yang digunakan juga negatif. Artinya, sumber bakteri bukan berasal dari air minum," jelas Markarius.
Berdasarkan peninjauan, dugaan sementara mengarah pada buruknya sanitasi lingkungan. Sebagian besar rumah di kawasan tersebut belum memiliki fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang layak.
"Sanitasi menjadi persoalan utama di sini. Banyak rumah belum memiliki MCK," ungkap Markarius.
Akibatnya, sebagian warga masih buang air di kebun. Kondisi ini memungkinkan lalat membawa bakteri ke makanan.
"Selain itu, makanan yang kurang higienis juga berpotensi menjadi penyebab penyebaran bakteri," sebut Markarius.
Untuk mengatasi persoalan air bersih, Markarius menugaskan Dinas PUPR mengkaji kemungkinan pembangunan sumur bor di lokasi tersebut.
"Kami akan menugaskan Dinas PUPR untuk melihat kemungkinan pembangunan sumur bor. Agar, warga memiliki akses air bersih dan fasilitas MCK yang memadai," ucap Markarius.
Langkah ini diharapkan dapat memutus rantai penyebaran penyakit berbasis lingkungan di kawasan padat penduduk tersebut.
Ketua RT 04, Saberi, mengatakan di wilayahnya terdapat 52 Kepala Keluarga. Sebagian besar warga bekerja sebagai buruh TPA Muara Fajar, buruh bangunan, pekerja sawit, hingga pengrajin batu bata.
Ia pertama kali mengetahui kasus ini setelah ada warga yang meninggal dunia.
"Kami baru mengetahui setelah ada warga yang meninggal dunia. Saat itu penyebabnya belum diketahui. Sehingga kami langsung mengimbau apabila ada warga yang sakit agar segera dibawa ke puskesmas," ujar Saberi.
Sejak kasus mencuat, petugas puskesmas, Pemprov Riau, hingga kader posyandu sudah beberapa kali datang melakukan pemeriksaan dan pendataan.
Saberi juga menyoroti masih ada warga yang belum memiliki dokumen kependudukan. Akibatnya mereka belum terdata dalam pelayanan kesehatan dan posyandu.
"Kami terus mengimbau warga agar segera mengurus administrasi kependudukan. Dengan begitu mereka lebih mudah mendapatkan pelayanan pemerintah, termasuk layanan kesehatan," pungkasnya.*****