Giliran Presiden Iran Ancam Musnahkan Israel, Dunia Makin Panas

Giliran Presiden Iran Ancam Musnahkan Israel, Dunia Makin Panas
Presiden Iran Ebrahim Raisi (AP/Ebrahim Noroozi)

JAKARTA, LIPO -  Retorika perang antara Iran dan Israel masih terus meningkat. Ini terjadi setelah kedua negara saling menyerang satu sama lain yang dipicu serbuan Israel ke Konsulat Iran di Damaskus awal bulan ini, 1 April.


Terbaru, Presiden Iran Ebrahim Raisi mengancam Israel akan "memusnahkan" Negeri Zionis itu jika mencoba menyerang Teheran lagi. Hal ini dilontarkannya dalam kunjungan ke Pakistan, Senin.
"Jika rezim Zionis sekali lagi melakukan kesalahan dan menyerang tanah suci Iran, situasinya akan berbeda, dan tidak jelas apakah rezim ini akan tetap bertahan," tulis kantor berita negara Iran, IRNA, mengutip ucapan Raisi, yang juga dilaporkan Russia Today (RT) Rabu (24/4/2024).

Israel tidak pernah secara resmi mengakui serangan udara tanggal 1 April terhadap konsulat Iran di Damaskus, Suriah yang menewaskan tujuh perwira senior Pasukan Quds Garda Revolusi Islam (IRGC). Namun Teheran membalas pada 13 April dengan menembakkan sejumlah drone dan rudal ke beberapa sasaran di Israel.

Iran mengabaikan serangkaian laporan ledakan di dekat kota Isfahan pada Jumat lalu. Sebelumnya, ledakan itu dikabarkan merupakan respons dari Israel.

Namun Tel Aviv tidak mengakui laporan serangan tersebut dan mengkritik seorang menteri kabinet yang berbicara tentang hal tersebut secara "tidak bergiliran". Teheran memilih untuk mengabaikannya daripada melakukan pembalasan yang cepat dan kejam seperti yang dijanjikan.

Sementara itu, berbicara di Lahore pada hari Selasa, Raisi pun berjanji untuk terus mendukung perlawanan Palestina. Ia juga mengecam Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat sebagai "pelanggar hak asasi manusia terbesar" menunjuk pada dukungan mereka terhadap "genosida" Israel di Gaza.

Sejauh ini, lebih dari 34.000 warga Palestina di daerah kantong tersebut telah terbunuh dalam operasi militer Israel. Israel menyatakan perang terhadap Hamas setelah serangan tanggal 7 Oktober oleh kelompok Palestina yang berbasis di Gaza yang merenggut nyawa sekitar 1.200 warga Israel.

Di sisi lain, sejumlah negara Barat telah menjatuhkan sanksi untuk Iran. Ini disebabkan dukungan Negeri Para Mullah itu kepada kelompok-kelompok proksi anti Israel di wilayah Timur Tengah dan juga serangan Teheran ke Israel.

Ketegangan Iran dan Israel memang menjadi fokus dunia saat ini. Konflik keduanya dikhawatirkan melebar menjadi konflik skala kawasan, mengingat banyaknya milisi pemberontak berada di bawah pengaruh Iran.

Saat serangan baru dilakukan Israel 19 April, Refinitiv mencatat harga minyak mentah acuan Brent sempat melejit 3,5% ke US$ 90,14 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 3,61% ke US$85,80 per barel.

Gangguan di Selat Hormuz, tempat 21 juta barel minyak berlayar per hari juga ditakutkan akan membawa dampak kenaikan inflasi ke sejumlah negara termasuk RI, jika berlangsung lama dan berlarut-larut. Khususnya RI, inflasi mungkin saja naik karena penyesuaian harga BBM akibat harga minyak yang diimpor naik, belum lagi pelemahan rupiah ke dolar akan semakin menjadi.(***)

Ikuti LIPO Online di GoogleNews

#Israel

Index

Berita Lainnya

Index