PEKANBARU, LIPO - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru terus memperkuat langkah pencegahan dan pemutusan mata rantai penularan HIV/AIDS melalui kolaborasi lintas lembaga.
Upaya tersebut dilakukan lewat penyuluhan, sosialisasi, hingga penguatan akses layanan pengobatan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV).
Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar menegaskan kolaborasi menjadi kunci utama untuk menekan angka penularan di Kota Bertuah.
Hal itu ia sampaikan usai menjadi narasumber dalam Lokakarya Penguatan Komitmen Daerah untuk Menjamin Keberlanjutan Program Layanan TB-HIV di Pekanbaru, Kamis (27/8/2026).
Menurut Markarius, Pemko tidak bekerja sendiri. Sejumlah pihak dilibatkan mulai dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), tokoh agama, ulama, hingga pemangku kepentingan lainnya untuk memberikan edukasi yang masif ke masyarakat.
Sosialisasi bahkan menyasar langsung ke lingkungan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap faktor risiko penularan HIV/AIDS.
"Setiap tahun memang ada peningkatan temuan kasus. Indikasi tingkat penularan tinggi, dan indikasi kita bekerja. Artinya skrining berjalan temuan kasus ada," jelas Markarius.
Ia menjelaskan, peningkatan temuan kasus tidak bisa dimaknai semata-mata sebagai lonjakan penularan. Justru, hal itu menunjukkan proses skrining dan deteksi dini yang dilakukan pemerintah berjalan aktif di lapangan.
Oleh karena itu, penguatan sinergi antara pemerintah, lembaga terkait, tokoh agama, dunia pendidikan, dan masyarakat dinilai sangat penting. Sinergi tersebut dibutuhkan agar upaya pencegahan, deteksi dini, pendampingan, hingga pengobatan bisa berjalan berkelanjutan.
Pemko Pekanbaru, lanjut Markarius, berkomitmen terus meningkatkan edukasi agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS, menghilangkan stigma, serta berani melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini.*****